Gunung Batur dan Gunung Agung Menurut Pandangan Masyarakat

  • 05 Juli 2018
  • Umum
Gunung Batur dan Gunung Agung Menurut Pandangan Masyarakat

Pulau Bali berada di jalur cincin api sehingga tidak mengherankan ada banyak gunung api di pulau seribu pura ini. Informasi di Museum Geopark Batur menyatakan diantara gunungapi yang ada dua di antaranya adalah Gunung Batur dan Gunung Agung yang memiliki keistimewaan bagi masyarakat Bali. Kedua gunung tersebut dianggap sebagai lingga buana atau lingga alam yang memiliki arti penting dalam kehidupan religi masyarakat Bali. Gunung Agung dianggap perwujudan Purusha (laki-laki) dan Gunung Batur dianggap sebagai wujud Pradhana (perempuan). Antara Purusha dan Pradhana tidak bisa dipisahkan karena senantiasa bersinergi untuk melahirkan kesuburan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Gunung Batur adalah salah satu gunung purba yang ada di Pulau Bali. Keberadaannya lebih tua dari Gunung Agung yang statusnya telah naik menjadi awas sejak 22 September 2017, dimana kedua gunung tersebut memiliki ikatan erat yaitu Gunung Agung muncul di "pangkuan" Gunung Batur pasca meletus ribuan tahun yang lalu. Saat Gunung Agung erupsi pada Februari 1963, Gunung Batur juga mengalami peningkatan aktivitas pada September di tahun yang sama. Gunung Agung dan Gunung Batur berada pada satu garis lempengan.

Dalam kesehariannya, masyarakat Bali memandang gunung sebagai sumber kehidupan dan menjadi kawasan tangkapan air yang bagian lerengnya ditumbuhi hutan. Karena wilayahnya subur, banyak masyarakat yang tinggal di wilayah kaki gunung dan memanfaatkannya dengan mengembangkan sistem pertanian yang produktif.

Gunung Batur terletak di Kintamani, Bangli, Bali dan menjadi salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Di wilayah Gunung Batur juga ada danau dengan nama yang sama yaitu Danau Batur yang terletak di area tinggi, yaitu 1.050 mdpl dengan luas 16 km persegi dengan kedalaman rata-rata 50,8 km. Dari data Museum Geopark Batur dijelaskan, jika letusan pertama Gunung Batur dimulai pada 1804. Ketika itu terbentuk kawah utama di puncak. 17 tahun kemudian, pada 1821, berlangsung letusan kedua dari kawah yang sama. Pada 1849 terjadi letusan dari kawah utama dan menghasilkan aliran lava ke arah selatan hingga ke tepi danau. Antara periode 1994/1995 sampai tahun 2003, Gunung Batur meletus 5 kali, yaitu antara tahun 1994 hingga 1995. Letusan berikutnya terjadi tahun 1997, 1998, 1999, dan 2000. Letusan yang terjadi pada 1998 membentuk kawah baru yang dikenal dengan Kawah 98.

  • 05 Juli 2018
  • Umum

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita